test

test

Spread the Kindness

Humans are interconnected as one of a kind. While there are a lot of ways to communicate, we tend to simplify it as a voice. A voice can be propagated passionately in thunderous cry, yet it can also be calm and soothing whispers. It can be perceived verbally, but also visually, and symbolically. So-called “voice” can be realized as a power to encourage others to do good!

News flash: Each one of us has our own voice!
As varied we are to how we can express ourselves, everyone has the same chance and subsequently option, to use the power for greater purposes. Are you willing to give for others?

Human advancements are the byproduct of their relationships to nature; the inspiration, the provider. Are not the very fertility of the soil bears us ripe and sweet fruits or the multitude of fishes in the waves of the sea lay bare to be tended? Are not the movements of the fellow living beings, such as the ants that prepare the winter, influence our culture and teach us how to survive? And that just might be how Earth’s embrace is identical to Mother’s gentleness.

In the sixth edition of #Weaver e-Magazine, we bring forth the stories of “Environmental Actions” with hope to inspire our readers that everyone can be the change. The smallest thing we do, matters. And there is no better time to start than right now if we choose to.

Click on the button below to get yours! (Now available in Bahasa)

oleh: Clarissa Amadhea (@clarissaamadhea) – Co-lead of SociopreneurID Publishing

“Everyone can be a change.” SID firmly believes in the transformative power of communities as agents of change.

For over a decade, SociopreneurID’s initiatives have actively engaged all sectors of society, showcasing a steadfast commitment to enhancing the educational landscape in Indonesia. Through this sustained effort, SociopreneurID has amassed valuable insights into the challenges and opportunities encountered throughout the implementation of the Be The Change initiative.

These challenges encompass various aspects, including rigid thought patterns, insufficient practical skills, decision-making limitations, and a dearth of analytical and critical thinking abilities, alongside character deficiencies. Consequently, these hurdles impede the education system’s ability to effectively adapt to change.

To catalyze meaningful progress in 2024, SociopreneurID is revitalizing the Be The Change initiative, leveraging its accumulated knowledge to address existing challenges and seize available opportunities. Recognizing the innate benevolence within the Indonesian populace, SociopreneurID is committed to empowering individuals to become leaders and exemplars in driving educational reform.

The culmination of these efforts will be witnessed at the Be the Change Final Event, a three-day convergence aimed at fostering learning, connectivity, and positive change. This event will facilitate engagements such as the Global Entrepreneurship Meeting, Multi-stakeholder Dialogue, and the Festival of Social Creativity, providing a platform for collective action and innovation.

On Thursday, February 29, 2024, the launch of the Be The Change Program marked a pivotal moment, featuring a thought-provoking panel discussion themed “Everyone Can Be A Change.” Led by Niki Prastomo, the panellists—Dessy Aliandrina, Mila Aliana, Edgard Gouveia Jr., and Clemens Graetsch—espoused the transformative potential of change and its role in personal and societal growth.

Emphasizing the need to embrace change as an opportunity for positive transformation, the panellists advocated for innovative approaches to education. They envisioned learning environments characterized by adventure and collaboration, underscoring the pivotal role of education in societal advancement.

Central to their message was the notion that every act of kindness and compassion contributes to meaningful change. Encouraging collective responsibility, they implored individuals to recognize their capacity for effecting positive change and to actively participate in shaping a better future.

As we reflect on these insights, let us embark on this journey of change unitedly. Each of us possesses the power to effect positive transformation. Let us harness our collective potential to spread kindness and positivity, becoming catalysts for change and champions of a brighter tomorrow.

Join us on this exhilarating journey where every action, no matter how small, has the potential to shape history through www.bthechange.id. Together, let’s be the change we aspire to see in the world.

POWER, PEACE OUT~ #HistoryMakers

oleh: Dominito Danand Jaya (@dominito_dj) – Content Writer at Youth Team SociopreneurID

Setiap tahun tepatnya pada tanggal 12 Agustus secara global kita merayakan “International Youth Day” sebagai suatu media, platform, atau sebuah mercusuar yang menjadi pengingat betapa pentingnya anak muda dalam kehidupan masyarakat global.

International Youth Day tahun ini mengangkat tema Green Skills for Youth, dalam tema ini United Nation menyatakan 5 hal yang harus diketahui mengenai tema Green Skills for Youth.

1. Green Skills

“pengetahuan, kemampuan, nilai- nilai, serta prilaku yang dibutuhkan dalam mengembangkan dan mendukung kehidupan social serta lingkungan yang berkelanjutan serta efisien sumber daya”. Keterampilan hijau atau Green Skills mencakup berbagai aspek, mulai dari pemahaman tentang energi terbarukan dan efisiensi energi, pengelolaan limbah, pertanian berkelanjutan, hingga desain produk ramah lingkungan. Individu dengan green skills memiliki kemampuan untuk menerapkan solusi berkelanjutan dalam berbagai sektor, seperti industri, teknologi, pertanian, dan desain.                     

2. Youth will endure severe climate events longer

Dalam studi yang di lakukan oleh Wim Thiery and beberapa koleganya pada tahun 2021, melalui beberapa model atau skenario pemanasan global dengan data demografi untuk menghitung paparan seumur hidup terhadap enam jenis cuaca ekstrem untuk setiap generasi yang lahir antara tahun 1960 dan 2020, ia menemukan bahwa “tampaknya intuitif bahwa generasi muda akan mengalami lebih banyak dampak dari perubahan iklim ketimbang generasi yang lebih tua”.

3. Youth will experience significant changes in economic opportunities

Berdasarkan data yang dari United Nation “climate change” akan mempegaruhi sekitar 40% pekerjaan yang bergantung pada Kesehatan lingkungan, perkiraan United Nation pada tahun 2023 akan muncul sekitar 8,4 juta pekerjaan yang diciptakan dari transisi pada lingkungan yang lebih hijau. Tumbuhnya kesadaran akan masalah lingkungan dapat mendorong permintaan akan pekerjaan ramah lingkungan dan praktik berkelanjutan. Para muda – mudi dengan keahlian dalam energi terbarukan, konservasi, dan teknologi ramah lingkungan dapat menemukan peluang ekonomi yang menjanjikan di masa depan.

4. Skill demand is exceeding supply

United Nation menyatakan bahwa pada tahun 2030, sekitar 60% dari anak muda akan kekurangan atau tidak memiliki kemampuan untuk berkembang pesat dalam “ekonomi hijau” yang akan datang. Menurut analisis Linkedin antara 2022 – 2023 terdapat peningkatan 22,4% pada lowongan kerja yang membutuhkan setidaknya 1 “Green Skills”. Peningkatan kebutuhan akan kemampuan – kemampuan hijau ini dapat berdampak pada bagaimana suatu perusahaan bergerak yaitu dalam proses perekrutan, kualifikasi pekerjaan akan lebih sulit untuk dicapai, akibatnya projek, inovasi, dan kualitas menurun, alhasil ekonomi, dan citra perusahaan menjadi kurang baik.

5. There are disparities that must be addressed

United Nation mengidentifikasi bahwa terdapat beberapa kesenjangan yang harus kita atasi, salah satu dari kesenjangan tersebut adalah kesenjangan edukasi yang terjadi di dunia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan United Nation menemukan bahwa kemampuan hijau atau “Green Skills” akan lebih mudah dikembangkan oleh edukasi melalui pendidikan tinggi, akan tetapi kemampuan hijau dapat juga dikembangkan melalui berbagai macam pendekatan. Sociopreneur Indonesia menghadirkan beberapa bentuk pendekatan terhadap semua kalangan masyarakat agar dapat mengembangkan kemampuan hijau.

Sociopreneur Indonesia secara aktif mendukung dan mengambil peran dalam mensukseskan tema dari International Youth Day melalui berbagai macam program serta kampanye yang mengutamakan anak muda “Youth”. Green Skills telah menjadi ideologi utama dari SID dimana dalam tahun ini SID menekankan pemahaman atas Eco-Literacy. Berikut adalah beberapa program yang dilaksanakan SID dalam mendukung tema International Youth Day tahun ini

a. Pengembangan “Green Skill” telah diintegrasikan dalam sejumlah program, untuk anak – anak usia dini AHAI (Anak Hebat Anak Indonesia). AHAI adalah program yang melatih serta menumbuhkan kreatifitas dan inovasi anak – anak jenjang sekolah dasar untuk mengenal dan memahami lingkungan sekitar mereka.

b. Program BCreator merupakan program yang dilaksanakan untuk kelompok umur remaja SMP – SMA, program ini memiliki visi untuk memberikan akses bagi para siswa akan informasi – informasi melalui serangkaian aktivitas yang dirancang untuk memicu serta menstimulasi kemampuan fisik, intelektual, sosial, dan spiritual.

c. Expert and Youth Volunteer program adalah program yang ditargetkan pada khalayak umum yang terdiri dari Youth Volunteer (mahasiswa) dan Expert Volunteer (profesional) kegiatan ini bertujuan untuk mengkolaborasikan pengalaman minimal 8 tahun seorang profesional dengan pelajar atau mahasiswa untuk menghasilkan video edukasi bertajuk lingkungan yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran bagi umum. Beberapa hasil dari kegiatan ini dapat diakses melalui channel Youtube Sociopreneur Indonesia.

Lantas, apa yang menjadi harapan dari Sociopreneur Indonesia dalam International Youth Day tahun ini, sudah pastinya memberdayakan anak muda untuk  menjadi penggerak bagi kelestarian lingkungan di masa depan melalui kemampuan hijau atau “Green Skills”. Terbentuk aksi – aksi nyata yang tidak hanya menekan “urgensi” dari green skills tapi bagaimana perwujudan serta implementasi yang dapat dilakukan anak muda terhadap lingkungan di masa depan.

Sebagai penutup Sociopreneur Indonesia ingin mengingatkan kita semua bahwa :

“Green Skills mendukung keberlanjutan”

“Green Skills memberdayakan kehidupan”

“Green Skills membentuk masa depan”

oleh: Rani Fatmawati (@ranifatmawati2) – Content Writer at Youth Team SociopreneurID

                “Indonesia tak tersusun dari bata peta, tapi gerak dan peran besar kaum muda.” -Najwa Shihab.

Menurut Dukcapil Kementerian Negeri, hampir 69% penduduk Indonesia masuk pada usia produktif pada tahun 2022 yang disebut era bonus demografi. Angka ini berdampak pada pembangunan Indonesia di tahun 2045. Yang berarti, jumlah usia produktif ini (15-64 tahun), terutama kalangan muda harus dipersiapkan. Keberhasilan pembangunan kaum muda saat ini akan memiliki dampak pada keberhasilan pembangunan di tahun 2045. Contoh pembangunan produktifitas kaum muda, ialah memberikan ruang bebas bagi mereka untuk mengembangkan kreatifitas mereka. Seperti yang dilakukan oleh Sociopreneur Indonesia membentuk youth team sebagai ruang bebas bagi kaum muda untuk berproses.

Saat ini, youth team SID terlibat mengurusi operasional dan aktivitas day to day di SID yang lingkup kerjanya dalam skala nasional. Youth Team terdiri dari delapan orang kaum muda yang terbagi menjadi beberapa divisi. Sedikit, ya? Namun, kualitas dan proses bisa diadu, kok! Mari berkenalan dengan mereka, yuk!

Personil youth team pertama, ada Safira Dyapramesti Ruhita, biasa dipanggil Deak. Saat ini, Deak berkuliah di DKV ITS semester 8 dan sedang menyelesaikan skripsinya. Di SID, peran Deak merupakan E-Magazine Designer merangkap Graphic Designer untuk media sosial. Dengan menjadi bagian dari SociopreneurID, Deak berharap bisa mendapatkan pengalaman bekerja secara langsung dari sebuah perusahaan dan mengembangkan relasi. Dulunya, Deak bergabung sebagai youth team karena kewajiban kampus untuk magang dan ia pun extend magang di SID sampai sekarang karena masih ingin berkembang bersama SID.

Yang kedua, ada Erni Yuliyanti dan merupakan salah satu mahasiswi semester akhir di Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Pertamina. Di samping menjalankan aktivitas sebagai youth team di SID, Erni juga aktif mengikuti kegiatan berorganisasi dan kerelawanan yang bergerak mendukung isu-isu inklusivitas sosial dan pembangunan anak muda. Sebagai salah satu youth team SID yang sudah bergabung selama kurang lebih 1 tahun, Erni memiliki spesialisasi sebagai researcher yang fokus untuk melakukan penelitian terhadap berbagai program yang dilaksanakan oleh SID. Salah satu program yang diteliti oleh Erni adalah kegiatan kerelawanan dalam program Expert and Youth Volunteering. Sebagai researcher, Erni harus memiliki keterampilan yang baik dalam pengumpulan data, interpretasi dan analisis, hingga pembuatan laporan hasil penelitian.

Tak kalah hebat dari Erni, ada Farah Susmita atau biasa dipanggil Farah. Ia berasal dari Surabaya dan saat ini berkuliah di UPN Veteran Jawa Timur jurusan Desain Komunikasi Visual. Di SID, Farah berperan sebagai video editor, yang bertugas untuk mengedit video kebutuhan konten. Farah bergabung di SID karena ia mendapat pengalaman dan belajar hal baru yang sebelumnya belum didapatkan di kampus.

Personil keempat adalah Muhammad Reza Saputra. Ia biasa dipanggil Reza dan merupakan seorang mahasiswa aktif di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam. Di SID, Reza berada di Tim Digital Marketing yang bertugas aktivasi media sosial SociopreneurID. Hal yang ingin Reza capai selama magang di SID adalah untuk menambah wawasan terkait lingkungan. Alasan Reza bergabung dalam Tim Digital Marketing adalah karena ia ingin mempunyai pengalaman dalam mengurus media sosial. Di tengah era digitalisasi seperti sekarang ini, Reza merasa skill mengurus media sosial akan sangat terpakai di dunia kerja nanti.

Tak hanya menjangkau anak muda di Indonesia, SID juga mempunyai youth team yang sedang berkuliah di luar negeri. Namanya adalah Jessica Wiane Alie. Di SID, Jessica berperan sebagai Research Intern dan saat ini sekaligus juga merupakan mahasiswi di University of York, Inggris. Hal yang ingin dicapai Jessica adalah meningkatkan kemampuan dalam menganalisis projek tertentu, terutama dalam hal soft skills, serta bisa memberikan kontribusi kembali pada SID. Alasan Jessica untuk bergabung di SID adalah karena memiliki visi yang sama dalam hal mengedukasi sesama. Sebagai pegiat pendidikan, kita memiliki kesempatan untuk menyebarkan ilmu dan memberikan kehidupan yang lebih baik pada orang lain.

Kemduian, ada juga yang menggeluti bidang content writing, yaitu Rani Fatmawati. Ia sudah menjadi intern di SID selama satu tahun lebih. Saat ini, Rani sudah lulus kuliah dari UIN Syarif Hidayatullah dan bekerja di sebuah LSM. Hal yang membuatnya tetap bertahan di SID adalah ia bisa berproses dan berdampak melalui tulisan. Sebagai seorang introvert, berinteraksi dengan banyak orang adalah hal yang sangat melelahkan. Namun, sebagai content writer, Rani bisa berelasi secara perseorangan tanpa memerlukan energi yang banyak sekaligus bisa menyampaikan insight baru pada pembaca tulisannya. Melalui SID juga, Rani menemukan ruang bebas dalam mengeksplor hal-hal baru.

Bulan Juli ini, Rani dibantu oleh Dominito Danand Jaya, youth team yang bergabung pada periode ini. Akrab dipanggil dengan Dom atau Dito, ia saat ini sedang menempuh pendidikan di program studi komunikasi, Universitas Katolik Atma Jaya BSD. Dito memiliki hobi yang sama dengan Jessica yaitu bermain musik. Keduanya piawai dalam memainkan instrumen piano. Dito bergabung dengan SID mulai dengan menjadi youth volunteer dalam program Expert and Youth Volunteering tahun lalu. Minat Dito untuk mengeksplorasi hal-hal baru tumbuh dengan keikutsertaannya dalam beberapa proyek SID setelah itu, hingga akhirnya Dito memutuskan untuk bergabung sebagai youth team pada periode ini dan akan bekerja sama dengan Rani untuk menggarap tulisan yang dapat diakses oleh public tentang kegiatan dan nilai-nilai yang dianut oleh SID.

Terakhir, adalah personal youth team termuda dan juga baru bergabung pada bulan Juli ini untuk menjalankan kampanye 7 Days of Kindness Challenge. Ia adalah Nadia Tjiptadjaja, seorang siswi kelas XI Sekolah Pelita Harapan di Tangerang. Nadia bergabung sebagai youth team di SID untuk mengisi waktu liburan sekolah. Sepanjang bulan Juli ini, Nadia akan menjadi co-creator kampanye 7 Days of Kindness Challenge dan akan bekerja sama dengan youth team lainnya untuk mendorong agar kampanye ini dapat berjalan secara masif.

Jadi, itulah kedelapan anggota youth team dengan latar belakang dan alasan berbeda untuk bergabung di Sociopreneur Indonesia. Kuantitas tidak menjamin sebuah kualitas. Walaupun hanya berenam, mereka dapat berdampak pada program pengembangan dari SID. Siapapun bisa asalkan memiliki kesadaran untuk bisa berproses. Di manapun tempatnya, yang terpenting adalah tujuan yang kita inginkan tercapai dan manfaat dapat kita rasakan sebagai individu yang terus berproses.

oleh: Rani Fatmawati (@ranifatmawati2) – Content Writer at Youth Team SociopreneurID

Sampah plastik masih menjadi permasalahan global saat ini. Proses penguraiannya yang membutuhkan waktu lama berdampak pada kerusakan ekosistem baik di darat maupun di laut. Pemusnahan sampah plastik juga bisa menghasilkan gas beracun bagi manusia.

Mengetahui permasalahan tersebut, Sawokecik punya solusinya. Sawokecik merupakan sebuah usaha yang diinisiasi oleh sekelompok mahasiswa. Usaha yang dikelola merupakan produksi berbagai aksesoris dengan memanfaatkan limbah plastik, khususnya botol plastik dan kantong plastik. Ide usaha ini tercetus di tahun 2019, tetapi perlu berbagai riset sebelum benar-benar dilaksanakan. Pada akhirnya, produk yang rilis pertama adalah pada akhir tahun 2020.

“Ada empat proses pengolahan. Yang pertama itu kami meleburkan sampah tutup botol. Jadi sampah tutup botol itu kami cacah menjadi biji plastik, lalu kami panaskan dan cetak menjadi berbagai produk seperti casing HP, gelang, kalung, anting, gantungan kunci, dan sebagainya. Yang kedua dengan sistem dilukis. Yang ketiga kami panaskan dengan cara disetrika. Terus yang keempat kami olah dengan sistem tenun daur ulang sampah plastik. Sistem ini menjadi yang pertama di Indonesia terkait pengolahan sampah plastik menjadi kain tenun. Lalu kami aplikasikan ke pembuatan produk,” jelas Kak Andrey sebagai pengelola Sawokecik.

Sumber bahan baku yang digunakan didapatkan melalui kerja sama bersama masyarakat sekitar. Selain itu, Sawokecik juga mendapatkan donatur dari berbagai tempat yang menghubungi Sawokecik melalui media sosial. Karena sebenarnya, di kota-kota besar sudah mulai membiasakan memisahkan jenis-jenis sampah seperti sampah plastik, tetapi kebanyakan masyarakat masih kebingungan untuk menyalurkan sampah-sampah yang sudah dipilah tersebut. Akhirnya, melalui informasi media sosial, mereka bisa mengirimkan sampah-sampah plastik tersebut ke Sawokecik.

“Kami memberdayakan masyarakat yang ada di sekitar kami dalam proses penenunan, penjahiran, proses sterilisasi sampah, khususnya ibu-ibu yang ada di sekitar kami,” jawab Kak Andrey. “Selain pada proses produksi, Sawokecik saat ini juga mengembangkan bidang edu-ekowisata yang berbasis lingkungan. Jadi, kami berharap bisa menjadi tempat wisata, pelatihan atau pengenalan lingkungan.”

Kesulitan dalam segi informasi, biaya, pemasaran. Dalam segi informasi, di awal-awal berdirinya Sawokecik keterbatasan informasi bagaimana mengolah plastik menjadi sebuah produk, sehingga perlu riset yang cukup panjang serta keterbatasan dana untuk riset tersebut. Masih banyak orang yang berangapan bahwa produk daur ulang adalah produk yang tidak menarik untuk zaman sekarang. Jadi, Sawokecik juga saat ini fokus untuk mengembangkan trend fashion baru, sehingga produk Sawokecik bisa digunakan sehari-hari dan tidak malu menggunakannya.

Saat ini, tim inti Sawokecik hanya sendiri karena kesibukan masing-masing dari para founder-nya terdahulu. Namun, Andrey memilih untuk mempertahankan usahanya ini walaupun tim inti hanya tersisa dirinya sendiri. “Dari awal karena saya basic-nya melakukan kewirausahaan. Jadinya sebelum ada Sawokecik ini juga, saya pernah berwirausaha. Alasan saya bertahan karena bisnis ini berpotensi karena saat ini mulai banyak orang fokus untuk melakukan pengolahan sampah karena semakin banyak permasalahan yang timbul dari sampah. Contohnya pemerintah saat ini mulai peduli ataupun mulai fokus mengatasi permasalahan sampah. Kemungkinan ke depannya, bisnis yang berkembang di bidang ecofriendly ini bisa berkembang. Karena hal itu, kami terus berinovasi, sehingga produk yang kami buat pun bertambah. Yang awalnya hanya casing HP, sekarang bertambah produk-produk lainnya. Selain itu juga, dengan berinovasi, kami menemukan teknik baru yaitu tenun daur ulang sampah plastik. “

Harapannya, sesuai nama Sawokecik berasal dari bahasa sansakerta yang dimaknai selalu membawa kebaikan. Harapan Andrey, usaha ini bisa membawa kebaikan pada masyarakat dan lingkungan serta mengurangi sampah-sampah di lingkungan dan memberdayakan masyarakat di sekitar.

“Saat ini Indonesia menjadi Negara penghasil sampah kedua di dunia. Oleh karena itu, perlu peran semua orang, tidak hanya pemerintah, tidak hanya lembaga, tidak hanya organisasi, tetapi semua orang untuk menjaga lingkungan dari mulai diri sendiri. Dengan semua orang berperan menjaga lingkunga, diharapkan generasi selanjutnya menikmati hasil dari menjaga lingkungan tersebut,” pesan Andrey di akhir sesi wawancara.

oleh: Rani Fatmawati (@ranifatmawati2) – Content Writer at Youth Team SociopreneurID

Media sosial bisa menjadi media untuk berbuat kebaikan. Itulah yang dilakukan oleh Shafa yang merupakan mahasiswi jurusan psikologi. Namun, di balik kesibukannya tersebut, ada kebiasaan yang bisa kita tiru.

Dalam salah satu kontennya, Shafa menceritakan bagaimana membeli beras dengan membawa sebuah wadah yang bertujuan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Konten tersebut ramai dan ditonton lebih dari 400 ribu viewers. Hal tersebut mungkin terbilang sederhana, tetapi masih jarang orang menggunakan metode tersebut. Salah satu komentar konten tersebut mengatakan, “aku enggak bisa kayak gini repot bawanya soalnya kalau belanja sekalian banyak”. Ada juga yang mengatakan “aku juga kayak gini dan penjual seneng karena dari sekian pembeli, yang bawa tempat hanya dua orang.”

Bukan hanya membiasakan mengurangi penggunaan kantong plastik, Shafa juga memiliki kebiasaan lain dalam mengurangi sampah. Bahkan, semenjak SMP, Shafa sudah mulai membiasakan menggunakan pembalut kain dan tidak menggunakan barang-barang sekali pakai. “Aku mulai menggunakan pembalut kain dari SMP. Walaupun sekarang karena aku ngekos, aku pakainya pembalut sekali pakai. Tapi kalau di rumah aku pakainya pembalut kain. Karena kalau di kosan jemurannya sharing gitu, jadi aku enggak enak sama penghuni kos lainnya.

Alasannya, Shafa tidak ingin di masa tuanya nanti atau saat ia memiliki anak, ia tidak ingin memiliki halaman yang kotor karena sampah yang berserakan dan tidak tertampung di tempatnya. Karena faktanya, apabila tukang sampah tidak mengangkut sampah selama tiga hari, tumpukan sampah sudah sangat menumpuk di depan rumahnya. “Karena hal itu aku jadi ngerasa keganggu. Apalagi nanti nanti nasib kita di 10 tahun ke depan. Jadi, aku enggak mau hal itu terjadi.”

Dari kebiasaan tersebut, ternyata memberi dampak positif pada Shafa. Secara psikologis, Shafa merasakan senang dan enjoy. “I did it. Aku merasa menang karena bisa ngalahin rasa egois aku. Karena sampah kan tanggung jawab kita. Kalau kita enggak bisa tanggung jawab sama sampah kita, berarti kita egois sama lingkungan kita, sama hewan-hewan yang ada, dan makhluk hidup lainnya.” Karena menurut Shafa, mengurangi ketergantungan pada plastik merupakan hal yang sulit dan complicated karena adanya rasa malas, lupa bawa, atau karena kerepotan. “Jadi kalau mau lakuin sesuatu bisa sedikit demi sedikit dulu, enggak usah pakai alesan.”

Selain itu, dampak kebiasaan yang Shafa lakukan ternyata tertular pada teman-temannya. Mereka mengikuti kebiasaan Shafa untuk mengumpulkan sampah dan mencucinya. Setelah sampah-sampah tersebut terkumpul, maka sampah tersebut akan dikirimkan ke bank sampah. Bank sampah yang Shafa gunakan biasanya adalah Waste for Changes.

Kebiasaan lain yang Shafa terapkan saat ini adalah mengurangi sampah pakaian. Saat ini, Shafa jarang melakukan pembelian pakaian baru. Ia akan membeli pakaian bila memang benar-benar diperlukan dan bisa ia pakai sampai beratus-ratus kali. “Jadi aku lebih mentingin kualitas daripada kuantitas. Bisa dibilang sekarang baju aku sedikit, yang penting bisa aku pakai berkali-kali. Jadi, sekarang aku enggak beli baju karena ikut-ikutan trend aja.” Menurutnya, limbah pakaian tersebut merupakan salah satu limbah yang sulit didaur ulang, maka Shafa meninggalkan kebiasaan membeli pakaian hanya karena mengikuti trend saja.

Shafa pun membagikan beberapa tips agar kita bisa mulai membangun kebiasaan mengurangi sampah, di antaranya kita bisa mulai menggunakan hal yang kita suka. “Misalnya, kita tau kalau bawa tumbler ke mana-mana itu ribet, tapi coba deh kita cari tumbler yang punya gagang dan desainnya kamu suka, kapasitas airnya juga bisa memenuhi kebutuhan kamu. Dari ketiga hal tersebut, kamu mulai bawa tumbler ke mana-mana, kamu bangga bawa tumbler ke mana-mana, sampai akhirnya kamu lupa untuk beli minuman kemasan karena kamu sudah terbiasa membawa air dari rumah.”

Tips yang kedua, yaitu beralih ke wadah-wadah untuk makanan, seperti membeli cup silikon yang bisa dikerutkan menjadi kecil apabila tidak digunakan. Intinya, untuk beralih memulai kebiasaan mengurangi sampah dapat dimulai dengan membeli tumbler atau wadah dengan desain yang disukai, penggunaannya yang efisien, serta kualitasnya yang bagus.

 “Buanglah sampah pada tempatnya, tetapi bukan hanya sekadar buang sampah pada tempat sampah, kalau hanya dipahami seperti itu, halaman depan rumah kita bisa jadi TPS Bantar Gebang versi mini. Namun, bertanggung jawablah dengan sampah kita, sehingga yang dibuang ke tempat sambah adalah barang yang benar-benar tidak bisa dilakukan 3R lagi. Kalau tidak mau repot melakukan 3R, maka antisipasilah dengan membawa wadah sendiri saat mau jajan. Jika sulit membawa wadah, kamu bisa mencuci dan mengumpulkan sampahmu, lalu kirimkan ke bank sampah di kotamu. Pelan-pelan saja jika belum terbiasa, pasti bisa. Aku pun masih sering lupa atau kebablasan, tetapi ingat selalu untuk kembali ke track jaga lingkungan yang kita lakukan dari awal.”

oleh: Rani Fatmawati (@ranifatmawati2) – Content Writer at Youth Team SociopreneurID

“Melalui kolaborasi tercipta inisiasi.”

Itulah kutipan yang tepat bagi komunitas Kamar Ijo yang memiliki fokus pada isu SDGs. Komunitas ini terbentuk dari keresahan dua orang perempuan terhadap isu lingkungan, yaitu Kak Yeni dan Kak Osmaleli. Walau memiliki latar belakang kesibukan yang berbeda keduanya memiliki satu visi yang sama, yaitu bagaimana menciptakan dampak perubahan terhadap lingkungan.

Komunitas Kamar Ijo baru terbentuk di tahun 2023, tetapi sudah membentuk beragam kolaborasi bersama beberapa pihak. Tujuan dari komunitas ini ialah mengakselarasi kegiatan SDGs. Program utama dari Kamar Ijo terbagi menjadi dua, di lapangan dan lewat daring.

Program daring biasanya berbentuk webinar series bersama tokoh-tokoh insipiratif yang sudah memiliki lebih banyak pengalaman terkait kontribusinya terhadap lingkungan. Sementara itu, program lapangan masih terbatas pada beberapa domisili dan kegiatan pertama yang pernah dilakukan, ialah penanaman mangrove. Sebagai komunitas baru, banyak tantangan yang harus dihadapi, seperti waktu, menjaga komitmen, pencarian dana, dan sebagaimanya.

Salah satu gerakan unggulan yang dilakukan atas kerja sama berbagai stakeholder, di antaranya adalah penanaman 1000 tanaman bakau di Pulau Pari. Bakau sendiri memiliki beberapa manfaat, di antaranya mencegah tsunami, tempat tumbuh ikan, bisa diolah menjadi berbagai kerajinan, dan lain sebagainya.

Awalnya, untuk melaksanakan penanaman 1000 mangrove, Kak Yeni dan Kak Osmaleli memiliki kendala dalam pendanaan, Padahal, proposal sudah disebar ke beberapa lembaga. Namun, belum ada yang memberikan respons positif terkait pemberian bantuan pada program tersebut. Maka dari itu, melalui koneksi yang dimiliki, Kak Osma berhasil mendapatkan pendanaan dari Dinas Kelautan dan Perairan Kota Jakarta.

Gerakan menanam 1000 bakau tersebut merupakan inisiasi dari Komunitas Kamar Ijo dan dibantu oleh mahasiswa pascasarjana Ekonomi Kelautan Tropika IPB University. Komunitas Perempuan Pulau Pari, dan disponsori oleh Dinas Kelautan dan Perairan Kota Jakarta. “Kita juga memberikan ruang yang besar untuk masyarakat di Pulau Pari agar saat mangrove nya sudah besar, tidak hanya manfaat ekologi yang bisa diperoleh, melainkan mereka juga harus mempunyai skill untuk mengelola mangrove nya sebagai oleh-oleh sehingga sekaligus bisa memberdayakan perempuan-perempuan di Pulau Pari,” jelas Kak Osma.

Setelah keberhasilan di Pulau Pari, Komunitas Kamar Ijo berharap bisa melaksanakan kegiatan serupa di tempat lain, terutama di luar Jakarta yang mana pantainya masih belum dimanfaatkan secara maksimal.  

“Aku harap dari komunitas ini memiliki dampak lebih luas dan bisa memberikan penyebaran informasi SDGs yang bisa menjangkau lebih banyak kalangan. Karena SDGs ini penting, tidak hanya membahas terkait lingkungan,” jelas Kak Yeni.

oleh: Rani Fatmawati (@ranifatmawati2) – Content Writer at Youth Team SociopreneurID

“Dampak yang besar berawal dari kebiasaan kecil.” Itulah kutipan yang diberikan Kak Bree sebagai pendamping anak-anak Kampung Madur.

Umumnya, orang tua dari anak-anak Kampung Madur merupakan petani. Rentang usia anak-anak yang Kak Bree dampingi berkisar dari 4-13 tahun dengan jumlah 50 orang. Selain belajar dan bermain bersama anak-anak, Kak Bree juga sibuk mengelola perkebunan rempahnya. Dengan pengetahuannya tersebut, anak-anak kerap diajarkan menanam tanaman sejak dini seperti sayuran dan hasil panen mereka pun dibawa pulang.

Tidak hanya tentang berkebun, Kak Bree menanamkan nilai-nilai untuk mencintai lingkungan kepada anak-anak. Selama pembelajaran, anak-anak diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya. “Kalau soal sampah anak-anak sekarang udah otomatis membuang ke tempatnya,” jawab Kak Bree. Mereka juga diberi keterampilan untuk mendaur ulang sampah yang tidak terpakai menjadi benda yang bermanfaat. Kak Bree juga mengajarkan membuat lahan hidroponik dari botol bekas. Kebiasaan- kebiasan mereka pun ternyata diikuti oleh kelompok Karang Taruna di mana mereka membuat program membersihkan sampah satu minggu sekali.

Sesekali, Kak Bree mengajak anak-anak Kampung Madur untuk mengeksplor tempat-tempat baru yang belum mereka kunjungi, seperti wisata alam dan air terjun. Terakhir tempat yang mereka kunjungi adalah Mesjid Al-Jabbar. “Jadi kalau kita pergi jalan-jalan, saya ajari untuk membawa kantong sampah. Biar bekas makanan atau minuman jajan mereka langsung dibuang ke kantong yang mereka bawa,” jelas Kak Bree. Bahkan, kunjungan anak-anak ke Kampung Madur ke Masjid Al-Jabbar memunculkan inisiatif anak-anak yang mengambil sampah di area dekat masjid.

Di satu kesempatan, Kak Bree juga mengajarkan membuat lilin dari minyak kelapa. Hal ini dilatarbelakangi karena kebanyakan rumah dari anak-anak Kampung Madur masih terbuat dari anyaman bambu. Mati listrik kerap sekali terjadi. Bila terus-menerus menggunakan lilin, hal ini bisa menimbulkan kebakaran. Pembuatan lilin dari minyak kelapa dengan sumbu tisu/kapas ini pun menjadi kebiasaan yang digunakan setiap rumah saat mati lampu.

Jadi, itulah beberapa kebiasaan yang diajarkan Kak Bree pada anak-anak Kampung Madur. Mungkin beberapa hal yang diajarkan Kak Bree menjadi hal biasa bagi beberapa orang. Namun, justru kebiasaan tersebut menjadi sangat luar biasa apabila diajarkan dan dibiasakan sejak dini oleh anak-anak. “Pokoknya semua kebiasaan itu dimulai dari diri kita dulu dan akhirnya anak-anak bisa sadar, lalu mengikutinya.” Ketika anak-anak sudah membiasakan kebiasakan untuk menjaga lingkungan, hal tersebut bisa berdampak besar bagi orang-orang sekitarnya dan akhirnya ikut menjaga lingkungan.

oleh: Rani Fatmawati (@ranifatmawati2) – Content Writer at Youth Team SociopreneurID

Penggunaan pembalut kain bukanlah lagi hal tabu bagi kalangan perempuan, tetapi penggunaannya masih sangat jarang. Hal ini dikarenakan pembalut kapas masih dinilai lebih mudah dan simple karena sekali pakai tanpa harus dicuci setiap kali akan digunakan. Namun, berbeda dari seorang mahasiswi yang bernama Rohmah. Ia sudah mulai menggunakan pembalut kain semenjak tiga tahun yang lalu.

Berawal dari iklan di sebuah e-commerce dan adanya dorongan dari influencer, Rohmah memutuskan untuk berpindah menggunakan pembalut kain. Awalnya, Rohmah kesulitan untuk beradaptasi karena pembalut kain cenderung tebal dan kurang nyaman dipakai dibandingkan pembalut sekali pakai. Belum lagi, proses pengeringan setelah dicuci pun cenderung lama. “Tapi kelebihannya, aku jadi bisa hemat pengeluaran yang biasanya setiap bulan aku harus beli pembalut, kalau sekarang enggak usah,” jelas Rohmah ketika ditanya kelebihan dari pembalut kain. Selama penggunaan pembalut kain juga, ia tidak lagi mengarasakan iritasi dibadingkan saat menggunakan pembalut sekali pakai.

Tidak hanya berdampak positif bagi dirinya pribadi dalam segi ekonomis maupun kesehatan, Rohmah menyadari bahwa dengan menggunakan pembalut kain, ia juga ikut berkontribusi terhadap lingkungan. Menurutnya, pembalut sekali pakai yang biasa ia gunakan dapat menghasilkan sampah plastik yang mana sulit terurai di tanah. “Apalagi kalau ganti pembalut yang disarankan itu kan 3-5 kali dalam sehari dan kalau menstruasi itu kurang lebih satu minggu. Jadi bisa dibayangkan ya berapa banyak timbunan sampah pembalut dan kita ngalamin menstruasi itu sampai kita menopause nanti dan itu baru dari satu orang. Sedangkan kalau pakai pembalut kain bisa mengurangi limbah yang disebabkan oleh pembalut.”

Menurut Rohmah, setiap perempuan perlu untuk mengganti pembalut sekali pakai ke alternatif lain yang tidak menimbulkan limbah plastik. Tidak harus pembalut kain, masih banyak jenis pembalut lainnya yang lebih ramah lingkungan dan bisa disesuaikan dengan kenyamanan masing-masing.

oleh: Rani Fatmawati (@ranifatmawati2) – Content Writer at Youth Team SociopreneurID

Halo, Sahabat SID! Siapa yang tidak mengenal Pandawara? Sekelompok pemuda yang kerap membagikan aksinya saat membersihkan sungai yang dipenuhi oleh sampah. Bahkan, aksinya tersebut sempat ter-notice oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, karena aksi mereka yang jarang sekali orang-orang saat ini lakukan.

Dalam video unggahan mereka di Tiktok, sungai-sungai yang awalnya dipadati oleh sampah sampai alirannya berhenti, akhirnya bisa mengalir seperti sedia kala. Sampah-sampah dari sungai pun terkumpul ke dalam jajaran trashbag dan akhirnya bisa dibuang ke tempat pembuangan sampah sebagaimana mestinya. Di beberapa podcast yang Pandawara sambangi, mereka menilai bahwa dengan kita berperilaku baik terhadap alam, maka alam pun akan membalasnya dengan baik pula.

Lalu, apa hubungan aksi Pandawara dengan ekoliterasi ini, ya? Sebagaimana pengertiannya, ekoliterasi merupakan bagaimana mengenalkan atau memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait pentingnya menjaga ekosistem lingkungan. Tidak selalu harus menggunakan ceramah, tetapi aksi yang dilakukan Pandawara bisa menjadi contoh bagi masyarakat bagaimana menjaga lingkungan sebagai mestinya.

Tidak hanya Pandawara saja. Nilai ekoliterasi sebenarnya sudah diterapkan di beberapa kebudayaan Indonesia, seperti nyepi dari kebudayaan Bali atau Leuweung Kolot dari Kebudayaan Baduy. Dari budaya nyepi, erat kaitannya dengan nilai-nilai ekoliterasi. Budaya nyepi memiliki nilai bahwa kesejahteraan dipengaruhi oleh alam, manusia, dan Tuhan.  Sementara itu, dari kebudayaan Baduy kita bisa belajar untuk bagaimana merawat lingkungan karena apa yang kita perbuat pada alam akan berbalik pada kita. Namun, pengaruh teknologi berdampak pada terbentuknya sifat individualis pada manusia. Mereka menjadi sering melakukan eksploitasi terhadap alam atau di tahap individu tidak lagi memedulikan terkait sampah.

Maka dari itu, perlunya pemahaman ekoliterasi penting bagi setiap orang untuk bisa menerapkan prinsip-prinsip peduli pada lingkungan. Karena kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bagi setiap individu. Jadi, kita tidak harus menjadi kelompok Pandawara yang membersihkan sungai dari limbah. Melalui langkah kecil seperti menghemat listrik, mengurangi sampah plastik, membuang sampah pada tempatnya, dan aksi kecil lainnya bisa membantu dalam mengurangi dampak kerusakan lingkungan.

Mungkin memang tampak kecil bila dibandingkan aksi besar seperti Pandawara, tetapi bila setiap individu memiliki kesadaran ekoliterasi, maka akan tercipta masyarakat peduli terhadap lingkungan. Ketika lingkungan lestari dan terjaga, lingkungan pun akan ramah pada kita, seperti berkurangnya volume banjir karena tersumbatnya lahan penyerapan air atau tercemarnya sungai karena sampah atau limbah. Hal tersebut lebih baik daripada menjadi individu yang merusak lingkungan.

oleh: Donia Helena Samosir (@doniahelena) – Content Writer at Youth Team SociopreneurID

“Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambungan.”

Masyarakat lokal selalu identik dengan masyarakat yang mampu bertahan dari gerusan perubahan zaman dan membentuk reseliensinya secara mandiri. Proses pembentukan reseliensi bukan tanpa alasan, melainkan untuk menjaga keseimbangan harmoni antara manusia dan alam, menjaga kelestarian keragaman alam dan kultur, serta menjadi pusat konservasi sumberdaya alam dan warisan budaya. Resiliensi tersebut juga terbentuk pada Masyarakat Baduy yang hidup di kaki Pegunungan Kendeng.

Baduy – yang berasal dari kata Badawi atau Bedouin Arab – merupakan sebutan dari penduduk luar Baduy dan sebutan tersebut dimulai dari peneliti Belanda yang berarti masyarakat nomaden. Selain itu, istilah “Baduy” juga diperkirakan diambil dari nama gunung dan sungai Baduy yang berada di daerah utara wilayah tersebut. Suku ini hidup di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak. Masyarakat Baduy merupakan masyarakat yang masih hidup dengan cara tradisional tanpa tersentuh modernisasi dan perubahan zaman.

Masyarakat Baduy terbagi atas Baduy Luar (Baduy Panamping) dan Baduy Dalam (Baduy Tangtu). Perbedaan keduanya ada pada norma-norma dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, wilayah tempat tinggal, hingga batas-batas interaksi dengan masyarakat luar Baduy. Baduy Luar terdiri atas 54 kampung, sudah mengenal teknologi, dan menggunakan peralatan rumah tangga yang modern. Sedangkan Baduy Dalam terdiri atas 3 kampung (Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik), belum tersentuh teknologi, hingga kehidupan sehari-harinya tidak boleh didokumentasikan. Dari perbedaan-perbedaan yang ada, masyarakat Baduy Luar maupun Baduy Dalam memahami norma-norma masing-masing kelompok dan memiliki banyak kesamaan pula, terutama pada upaya-upaya menjaga kelestarian alam di Kanekes.

Ungkapan “lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambungan” berarti panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung, menggambarkan bagaimana Masyarakat Baduy berusaha keras dalam menjaga nilai mutlak adat istiadat – meskipun perubahan zaman terus terjadi. Dalam adat istiadatnya, Masyarakat Baduy sangat menjaga kelestarian alam. Hal ini dibuktikan dengan aturan bernama pikukuh karuhun, yang berisi: 1) Dilarang masuk ke dalam hutan larangan untuk menebang pohon, membuka lading, atau mengambil hasil hutan lainnya, 2) Beberapa jenis pohon dan tanaman dilarang untuk ditebang sama sekali, seperti pohon-pohon yang menghasilkan buah dan tanaman tertentu. Hutan larangan yang sangat dijaga kelestariannya tersebut bernama Leuweung Kolot.

“Leuweung” berasal dari bahasa masyarakat setempat yang berarti “banyak pohon besar”. Leuweung Kolot atau hutan larangan merupakan bentuk resiliensi atau pertahanan Masyarakat Baduy dari gerusan modernisasi dan perubahan zaman, seperti penebangan hutan, penyerobotan tanah, dan pengambilan ikan di sungai menggunakan racun. Selain itu, Leuweung Kolot juga menjadi upaya perlindungan diri dari ancaman internal, seperti pertumbuhan pendudukan yang kian pesat, hingga menyebabkan kebutuhan akan sumber daya alam yang terus meningkat. Oleh karena itu, Leuweung Kolot ada untuk terus menjaga keharmonian hidup antara manusia dan alam pada Masyarakat Baduy.

Pada pelaksanaannya, Leuweung Kolot berisikan beranekaragam hayati dan sangat dijaga keberadaannya. Saat daerah disekitarnya boleh dinikmati hasil alamnya, serta boleh dibuka untuk kegiatan tani dan kebun, Leuweung Kolot adalah satu-satunya daerah yang tidak boleh digunakan. Hal ini tentunya sejalan dengan makna pembangunan atau pemanfaatan lingkungan berkelanjutan (environmental sustainability) yang berarti selalu mempertimbangkan keberlanjutan kondisi alam untuk dimanfaatkan oleh generasi masa depan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini pulalah yang menjadikan Leuweung Kolot masuk dalam daftar Kawasan Cagar Biosfer oleh UNESCO.

Masyarakat Baduy percaya bahwa kekuatan leluhur ada pada alam, oleh karena itu Masyarakat Baduy memuja leluhur dengan cara merawat alam sekitar (animisme). Dari cara Masyarakat Baduy menghargai alam, tentu dapat kita tiru dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam upaya melestarikan lingkungan, seperti: 1) Menyadari bahwa semua aspek kehidupan manusia bergantung pada alam, sehingga merawat alam bukan pilihan, melainkan kewajiban, 2) Tidak serakah dalam memanfaatkan alam, melainkan mengedepankan pemanfaatan lingkungan berkelanjutan, serta 3) Tidak menebang pohon atau melakukan penyerobotan lahan secara sembarangan.

Sociopreneur Indonesia percaya bahwa nilai-nilai yang diaplikasikan oleh Masyarakat Baduy pada Leuweung Kolot dapat diaplikasikan pula oleh kita semua dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, Sociopreneur Indonesia mengajak lebih banyak orang untuk dapat merawat lingkungan melalui kegiatan sehari-hari melalui Earthvenger dan turut menjadi Earthvenger Hero!