test

test

Spread the Kindness

Humans are interconnected as one of a kind. While there are a lot of ways to communicate, we tend to simplify it as a voice. A voice can be propagated passionately in thunderous cry, yet it can also be calm and soothing whispers. It can be perceived verbally, but also visually, and symbolically. So-called “voice” can be realized as a power to encourage others to do good!

News flash: Each one of us has our own voice!
As varied we are to how we can express ourselves, everyone has the same chance and subsequently option, to use the power for greater purposes. Are you willing to give for others?

Human advancements are the byproduct of their relationships to nature; the inspiration, the provider. Are not the very fertility of the soil bears us ripe and sweet fruits or the multitude of fishes in the waves of the sea lay bare to be tended? Are not the movements of the fellow living beings, such as the ants that prepare the winter, influence our culture and teach us how to survive? And that just might be how Earth’s embrace is identical to Mother’s gentleness.

In the sixth edition of #Weaver e-Magazine, we bring forth the stories of “Environmental Actions” with hope to inspire our readers that everyone can be the change. The smallest thing we do, matters. And there is no better time to start than right now if we choose to.

Click on the button below to get yours! (Now available in Bahasa)

oleh: Rani Fatmawati (@ranifatmawati2) – Content Writer at Youth Team SociopreneurID

Halo, Sahabat SID!            

Pernah mendengar program Empathy Project? Bagi yang belum, artikel kali ini akan membahas tentang program Empathy Project yang merupakan flagship di Sociopreneur Indonesia. Jadi, kali ini kita akan mengetahui cerita dari youth team sebagai salah satu panitia yang ikut terlibat dalam program ini dan ada juga dari youth volunteer untuk mengetahui keseruan mengikuti program ini.

Salah satu youth team dari SID ini bernama Vania Frederica. Vania merupakan salah satu youth team di SID yang memiliki posisi sebagai data administration. Ia juga merupakan seorang mahasiswi di ITS Surabaya dengan jurusan Statistika. Selain sebagai youth team, Vania memiliki tanggung jawab sebagai salah satu PIC kelompok dalam program Empathy Project.

Jadi, Empathy Project ini merupakan sebuah program kolaborasi antara kalangan muda dengan para ahli yang sudah berpengalaman selama lebih dari 8 tahun di bidangnya masing-masing. Output dari program ini adalah sebuah video edukasi yang mengajak para youth dan expert untuk bisa bekerja sama. Nah, salah satu dari tujuan pembuatan video edukasi ini adalah untuk menambah jumlah konten pembelajaran yang praktis, aplikatif, dan gratis untuk anak, remaja, orang tua, guru maupun masyarakt umum. Melalui kreatifitas para youth dan keilmuwan yang dimiliki expert, maka diharapkan terbentuk sebuah video pembelajaran yang berbeda dari video lainnya. Hingga akhirnya, bisa disebar ke sekolah maupun media sosial untuk bisa diakses oleh siapa saja dan bertemakan inklusifitas dan diversitas.

Secara garis besar, yang mengikuti program ini terdiri dari youth volunteer dan expert volunteer. Dalam youth volunteer terdiri atas project leader, video editor, storyline writer, social media campaign, dan graphic design yang memiliki tanggung jawab masing-masing. Setiap kelompok dari youth volunteer kemudian ditemani oleh dua expert volunteer yang bertugas untuk menentukan topik apa yang dibahas dalam video edukasi yang akan dibuat. Beliau juga akan mempresentasikan hasil dari kolaborasi tersebut sesuai panduan storyline writer.

Untuk posisi youth volunteer, bisa diikuti siapa saja dan masih berusia muda. Ia juga memiliki komitmen untuk bisa meluangkan waktunya untuk mengerjakan tugas yang diberikan. Bagi expert volunteer, tidak ada batasan latar belakang apa pun, tetapi harus memiliki pengalaman di atas 8 tahun pada bidang keahliannya. Sehingga, mereka bisa menuangkan pengalaman dan pengetahuan mereka melalui video edukasi yang akan dibuat. Program ini berlangsung selama tiga bulan, dari bulan Juni-September.

Tugas Vania sebagai PIC di program Empathy Project ini ialah untuk menemani salah satu kelompok yang terdiri dari youth volunteer dan expert volunteer selama menjalankan tugasnya. Vania juga memantau progress dari setiap tugasnya dan bila ada pertanyaan dari youth maupun expert volunteer, bisa ditanyakan melalui perantara Vania. Selain itu, ia juga terlibat bila ada meeting antara youth volunteer dan expert volunteer.

Alasan Vania melibatkan diri dalam program ini adalah karena momen menjadi PIC dalam program seperti Empathy Project ini tidak bisa didapatkan lagi di luar SID.

“Dengan menjadi PIC, aku bisa ketemu dengan orang-orang yang sefrekuensi untuk menambah relasi-relasi baru, terus aku juga bisa ketemu dengan expert yang sudah ahli di bidangnya,” tambah Vania. “Apalagi di pertemuan pertama bikin aku amazed tentang pembahasan bagaimana memahami pilihan kita sendiri, apa sudah sesuai kesadaran diri atau malah karena alam bawah sadar kita yang akhirnya malah hanya ikut-ikutan saja.” Dari pertemuan itu, Vania pun bisa berdiskusi dengan youth volunteer terkait pengalaman mereka juga dan dengan para expert.

Kesan yang dirasakan Vania selama terlibat ialah, “Sangat sesuai ekspektasi aku. Di mana aku bisa ikut berdiskusi antara youth volunteer dan expert volunteer yang mindblowing banget buat aku. Menyadarkan aku tentang pilihan-pilihan yang udah aku buat. Aku juga dapet tips-tips hasil dari diskusi dengan para expert mengenai produktifitas.”

Harapan Vania melalui program ini adalah agar masyarakat bisa meningkatkan literasi terhadap beragam topik. “Apalagi video-video yang telah dibuat sebelumnya pun sebenernya sudah beragam seperti eduksi, produktifitas, hingga kesehatan. Pokoknya topik-topik dari expert terdahulu itu unik-unik dan ada yang juga asing buatku,” jawab Vania saat ditanya mengenai harapan dari program ini. “Dari video edukasi ini juga bisa memberi pengetahuan baru buat anak-anak di luar batasan edukasi yang diberikan sekolah.

Sementara itu, ada cerita juga dari salah satu youth volunteer mengenai pengalamannya mengikuti Empathy Project, yaitu Suli Amalia. Suli merupakan mahasiswi semester 5 Jurusan Manajemen di Universitas Muhammadiyah Purworejo. Ia juga memiliki posisi sebagai project leader di kelompok 2 dalam program Empathy Project ini.

Alasan Suli mengikuti program Empathy Project, yaitu “Saya ingin mengikuti kegiatan yang positif dan produktif sehingga saya bisa menyeimbangkan kegiatan saya antara kuliah dan kegiatan lainnya. Jadi, saya tidak ingin hanya terus bermain HP sampai menghabiskan kuota, tetapi saya juga ingin menambah value saya melalui kegiatan ini. Saya juga ingin mendapatkan relasi baru, pengalaman, meningkatkan softskill, serta hal-hal positif lainnya,” jelas Suli.

Tugas Suli sebagai project leader ialah memastikan tugas-tugas dari setiap posisi sudah berjalan sesuai dengan timeline, berkoordinasi dengan expert volunteer, mengatur dan merencanakan rapat, dan melaporkan progress dari setiap posisi ke dalam template yang telah diberikan Sociopreneur Indonesia.

Manfaat yang dirasakan Suli pun sangat terasa dan berharga karena belum pernah ia temukan di bangku kuliah maupun kegiatan lainnya. “Di kegiatan ini saya belajar cara untuk berkomunikasi secara formal dan informal, melatih saya untuk bicara di depan expert volunteer, melatih saya untuk bicara dengan tim saya sendiri,” tambah Suli. “Di kegiatan ini juga bisa mengembangkan kreatifitas melalui video edukasi yang kita buat. Saya juga bisa merasakan solidaritas antara youth volunteer, expert volunteer, dan perwakilan tim SID.”

Suka duka yang dirasakan Suli pun banyak. “Sukanya saya mendapat relasi, pengalaman, dan ilmu dari teman-teman serta expert volunteer. Saya juga sangat apresiasi setinggi-tingginya atas kerja sama tim yang sudah bekerja keras dalam pembuatan project ini. Dukanya adalah ketika ada tugas yang terkendala, rapat yang ditunda, serta respons teman-teman lain ketika dihubungi karena kesibukan,” jelas Suli.

Suli berharap dari program ini bisa bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat dan video edukasi yang dihasilkan bisa memberi sedikit ilmu dan wawasan yang bisa diaplikasikan. Kemudian, tema Empathy Project, yaitu inklusifitas bisa benar-benar terealisasi dan berdampak positif bagi masyarakat.

oleh: Donia Helena Samosir (@doniahelena) – Content Writer at Youth Team SociopreneurID

As you grow older, you will discover that you have two hands — one for helping yourself, the other for helping others.” — Audrey Hepburn.

Menurut sebagian orang, menjadi sukarelawan merupakan kegiatan yang mungkin tidak memberikan manfaat materil bagi siapapun yang menjalaninya, melelahkan, bahkan mungkin harus mengorbankan banyak hal, seperti uang, waktu, dan tenaga. Namun. bagi sebagian lainnya menjadi sukarelawan merupakan panggilan hati, sehingga menjalani kerelawanan adalah tentang berbagi, memupuk rasa syukur, serta merajut hubungan baik. Hal tersebut pulalah yang dirasakan oleh Deak.

Safira Dyapramesti Ruhita – yang akrab dipanggil Deak – merupakan mahasiswa tingkat akhir di Desain Komunikasi Visual Intitut Teknologi Sepuluh Nopember (DKV ITS). Saat ini, Deak aktif mengikuti organisasi kampus, menjalani program magang di tiga tempat berbeda, serta tetap meluangkan waktu untuk menjadi relawan. Semua kegiatan tersebut dilakukan secara maksimal oleh Deak, tanpa terkecuali.

Kepada Sociopreneur Indonesia, Deak menceritakan bahwa dari pengalaman-pengalamannya menjadi sukarelawan, bakti sosial kepada Panti Asuhan Amanah Surabaya merupakan salah satu pengalaman kerelawanan yang berkesan baginya. Panti Asuhan Amanah berdiri sejak 1995. Panti asuhan ini didirikan oleh seorang ahli pijat bernama Sumirah. Hingga kini panti asuhan tersebut masih berdiri kokoh dan merawat lebih dari 85 anak. Hal ini menjadikan Panti Asuhan Amanah sebagai salah satu panti asuhan yang paling mendapat perhatian di Surabaya.

Bersama teman-teman kuliahnya, Deak menggalang dana dan berbagi kepada anak-anak di Panti Asuhan Amanah Surabaya. Deak menceritakan bahwa selain berbagi, bermain bersama anak-anak panti asuhan setempat merupakan kegiatan yang paling menyenangkan juga menantang. Deak dan teman-teman harus mengatur acara dan games yang menyenangkan agar acara berjalan lancar.

Menurut Deak, kegiatan ini tentunya memiliki dampak yang sangat positif. Ketenangan hati dan perasaan bahagia merupakan hal yang tidak bisa digantikan dengan apapun. Selain itu, dengan kehadiran banyak orang ke panti asuhan, juga membuat pihak panti asuhan lebih bersemangat dalam menjalani hari-hari, serta semakin percaya bahwa pertolongan Tuhan bagi anak-anak yatim piatu bisa datang dari mana saja.

Deak tetap percaya bahwa kegiatan kerelawanan merupakan kegiatan yang membawa dampak baik bagi setiap orang yang melakukannya. Deak menceritakan bahwa sepulang dari panti asuhan, Deak jadi memiliki rasa syukur yang lebih tinggi. Deak menyadari bahwa “selalu melihat ke atas” merupakan sifat yang tidak baik dan perlu untuk terus menyadari bahwa masih banyak orang yang lebih membutuhkan.

Deak juga tidak ragu untuk mengajak lebih banyak orang terlibat dalam kegiatan kerelawanan. Menurut Deak, setiap orang paling tidak harus memiliki pengalaman kerelawanan sekali dalam hidup karena akan mengubah cara pandang kita terhadap hidup. Sekecil apapun kontribusi yang diberikan, namun sangat mungkin bermakna besar bagi orang lain, memberi pengaruh, bahkan bisa mengubah hidup seseorang. Tentu tidak ada alasan untuk tidak berbuat baik. Deak berharap akan lebih banyak orang terpanggil untuk mengikuti kegiatan kerelawanan. Karena dari hal baik, lahir pula kehidupan yang lebih baik.

oleh: Donia Helena Samosir (@doniahelena) – Content Writer at Youth Team SociopreneurID

Keberagaman sumber daya laut merupakan salah satu kekayaan yang dimiliki oleh Negara Maritim seperti Indonesia. Negara Indonesia yang lahir dengan dua pertiga lautan dibandingkan daratan, memiliki ekosistem laut yang sangat beragam. Dari fakta tersebut, Indonesia mampu menjadi penyedia sumber pangan perikanan terbesar di dunia, penghasil 50 persen oksigen bagi organisme darat, serta penyerap karbondioksida dan sumber baku air minum. Kekayaan ekosistem laut tersebut tidak semata-mata terjadi begitu saja, melainkan hasil upaya masyarakat menjaga laut agar terus lestari.

Masyarakat Maluku, misalnya, menjaga laut dengan tradisi-tradisi kearifan lokal, salah satunya melalui Tradisi Sasi. Sasi yang secara turun-temurun diwariskan oleh masyarakat Maluku berasal dari Bahasa Wamala – yakni dari kata “sasihae” yang berarti “perkara yang terselubung” atau “sasi” yang berarti “orang meninggal”. Kata “sasi” mengalami asimilasi dan kini bermakna sebagai hukuman dipermalukan di depan umum, kerja untuk negeri, atau denda uang. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat mampu mematuhi kesepakatan tentang kewajiban atau larangan terhadap panen, penangkapan, pengambilan tanpa izin baik untuk kepentingan pribadi maupun komersial terhadap sumber daya alam tertentu yang bermanfaat bagi masyarakat.

Sasi sendiri merupakan sebuah tradisi masyarakat adat di Maluku yang melarang masyarakat untuk mengambil hasil panen alam (darat dan laut) dalam jangka waktu tertentu. Hal ini dimaksudkan sebagai pelestarian alam dan menjaga populasi. Pengambilan hasil laut boleh dilakukan hanya jika ritual pembukaan sasi dilakukan, agar sumber daya laut yang dilindungi punya waktu yang cukup untuk berkembang biak dengan baik agar hasil panennya lebih banyak dan ekosistem di laut tidak rusak.

Tradisi Sasi hanya akan berhenti ketika pembukaan ritual Sasi, hal ini dilakukan ketika ikan lompa (sejenis sarden) memasuki sungai untuk dipanen. Ikan lompa boleh dipanen dengan syarat air sungai harus bersih, serta tidak boleh ada masyarakat yang buang air di sungai karena ikan lompa akan ditangkap di sungai-sungai yang ada di sekitar masyarakat. Ritual pembukaan dimulai dengan Panasasi – dimana tetua adat mengelilingi kampung sambil membaca aturan buka sasi dan membakar lobe (daun kelapa kering) selama semalaman.

Pembukaan sasi yang berlaku selama satu hari memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk membentangkan jaring di sepanjang muara sungai  Setelah itu, seluruh masyarakat akan berkumpul dipesisir kali, mengambil hasi laut, dan hasil laut tersebut dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Dalam sekali panen, masyarakat Maluku dapat memperoleh lebih dari 40 ton ikan lompa. Ikan tersebut tidak boleh dijual, melainkan menjadi penopang pangan masyarakat setempat.

Tradisi yang sudah ada sejak tahun 1600 ini mungkin terlihat sederhana, namun tradisi ini berhasil memberikan banyak sekali manfaat, baik bagi alam dan umat manusia, diantaranya; 1) Sasi berhasil menjaga keseimbangan ekosistem di alam, 2) Sasi menjadi kontribusi nyata masyarakat adat dalam merawat laut Maluku, 3) Sasi mengajarkan kepada masyarakat Maluku untuk tidak tamak dan serakah dalam memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Manfaat-manfaat tersebut tentunya dirasakan dan membuat Tradisi Sasi diakui oleh banyak pihak, diantaranya Sasi masuk ke dalam Warisan Budaya Tak Benda UNESCO Tahun 2003. Sasi juga menjadi konstruksi sosial sustainability yang diberdayakan oleh Organisasi Masyarakat Sipil – terutama pada Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Summit 2022, serta menjadi tulang punggung Ekonomi Biru di Indonesia.

Ekonomi Biru yang sejatinya merupakan pemanfaatan sumber daya laut yang berwawasan lingkungan dapat membantu pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan, sekaligus pelestarian ekonomi laut. Sasi yang mampu menopang pangan masyarakat Maluku dalam jangka waktu yang sangat panjang dapat menjadi ketahanan pangan secara tradisional bagi Masyarakat Maluku.

Sasi yang turun-temurun dilakukan oleh masyarakat pesisir di Maluku, tentu nilai-nilai tradisinya dapat kita maknai dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti tidak membuang sampah ke sungai, tidak serakah dalam memanfaatkan ketersediaan alam di sekitar kita, dan juga menyadari bahwa kondisi alam adalah cerminan diri kita dalam memperlakukan alam.

Tradisi Sasi pada dasarnya memang dilakukan oleh masyarakat pesisir di Maluku, namun nilai-nilai menjaga kelestarian alam didalamnya adalah hal yang bisa ditiru oleh siapapun dan dimana pun. Oleh karena itu, Sociopreneur Indonesia percaya bahwa nilai-nilai pada Tradisi Sasi dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari serta membawa lebih banyak orang menjadi Earthvenger Hero!

oleh: Rani Fatmawati (@ranifatmawati2) – Content Writer at Youth Team SociopreneurID

Halo, sahabat SID!

Sahabat SID pernah mengikuti kerelawanan apa saja hingga saat ini? Kalau salah satu youth team SID ini pernah menjadi pengajar di sebuah komunitas mengajar. Ada kisah unik dan menarik yang akan dipaparkan di artikel ini mengenai pengalaman Kak Nun sebagai relawan. Mau tahu ceritanya? Yuk, simak artikel di bawah ini.

Nama lengkap salah satu youth team ini adalah Khusnun Nisa Utami atau bisa dipanggil Kak Nun. Kak Nun memiliki posisi sebagai digital marketing di youth team SID. Kak Nun berkuliah di jurusan Ilmu Administrasi, Universitas Terbuka.

Ketika SMA, Kak Nun pernah bergabung dalam sebuah komunitas mengajar yang bernama Kebumen Mengajar. Sejak mengetahui komunitas ini, Kak Nun sudah tertarik untuk ikut bergabung apalagi Kebumen Mengajar adalah salah satu komunitas terbesar juga di daerah Kebumen. Di dalam komunitas ini, ada dua jenis relawan, yaitu relawan mengajar dan relawan dokumentasi. Kak Nun pun berkesempatan menjadi relawan pengajar.

Kegiatan utama dari Kebumen Mengajar ialah mengajar satu hari di sebuah SD atau MI yang terletak di Kebumen, khususnya daerah pelosok dan jauh dari perkotaan. Kak Nun mengikuti hingga dua kali kegiatan, yaitu mengajar di SD Negeri 1 Selogiri dan di MI Sultan Agung Kalibangkang.

Di beberapa kegiatan yang Kak Nun ikuti, ada pengalaman serta pelajaran baru yang baru ia temui. “Waktu itu, aku kebagian mengajar kelas 1 dan kelas 4. Ada yang berbeda saat aku mengajar di dua kelas itu karena cara nge-threat mereka itu berbeda. Mungkin kalau dilihat, anak SD itu sama saja, tapi ternyata enggak,” jawabnya. “Waktu kita terjun ke lapangan itu bener-bener beda banget.”

Ketika mengajar di kelas 1 SD, menurut Kak Nun, karakter mereka masih cenderung ingin bermain dan enggan disuruh belajar. Mereka juga kesulitan untuk memahami materi. Sementara untuk kelas 4, mereka sudah bisa menurut dan mudah memahami pelajaran yang diberikan.

“Jadi, ternyata waktu kita terjun ke lapangan dan apa yang kita pikirin itu beda banget apalagi buat ngajar,” tambah Kak Nun. Ternyata, setiap tingkatan kelas memiliki perlakuan khusus yang berbeda. Hal tersebut baru Kak Nun temui ketika sudah terjun ke lapangan.

Melalui kegiatan tersebut, Kak Nun menjadi lebih memahami bahwa cara memperlakukan setiap orang itu berbeda. “Aku belajar bagaimana nge-threat orang satu per satu. Gimana cara memperlakukan orang terutama anak-anak karena mereka belum tentu ngerti apa yang kita sampein dan apa yang kita komunikasiin,” jelas Kak Nun. 

Wah, padahal dari jurusan kuliah yang Kak Nun ambil bukan dari ranah pendidikan, tetapi melalui kerelewanan ini Kak Nun jadi belajar bagaimana mengajar dan menghadapi anak usia sekolah dasar. Jadi, kerelewanan itu sifatnya ternyata inklusif yang berarti mau dari kalangan mana pun, dengan latar belakang apa pun, bisa mengikuti kegiatan relawan ini.

Selain kegiatan kerelawanan secara offline, Kak Nun pun pernah menjalani kerelawanan secara online di mana tugasnya menyebar informasi di media sosial. Menurut Kak Nun, memperluas informasi bermanfaat di media sosial bisa disebut kegiatan relawan. Karena walau melalui kegiatan sekecil itu, bisa berdampak positif pada masyarakat. Hal ini bisa menjadi opsi bagi kita yang ingin ikut kegiatan kerelawanan, tetapi belum punya banyak waktu untuk kegiatan-kegiatan di luar.

Makna kerelawanan menurut Kak Nun ialah, “kerelawanan itu datangnya dari hati kita sendiri dan itu harus tergerak dari kita sendiri dan jangan pernah mengharapkan imbalan sepeserpun ketika kita terjun ke dunia kerelawanan.”

Kak Nun pun kerap mendapat opini dari orang-orang sekitar bahwa mengikuti kerelawanan hanya buang-buang tenaga dan tidak mendapat imbalan apa-apa. Kak Nun pun memberi tanggapan, “Menurutku, ketika kita terjun ke dunia kerelawanan, banyak hal yang bahkan enggak bisa dibayar oleh uang dan hal itu akan diingat seumur hidup bahwa kita pernah membantu orang lain. Aku percaya hal ini akan menjadi bekal buatku. Karena enggak semua yang kita lakuin dibayar sama uang dan ada pengalaman yang lebih berharga dari uang itu sendiri.”

Pesan dari Kak Nun, sebelum kita terjun ke dunia relawan, jangan mengharapkan imbalan sepersepun dan kita harus mengetahui bidang seperti apa yang ingin kita pelajari dan bisa kita kembangkan karena melalui kerelawanan tersebut, kita bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama. Setelahnya, kita akan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan di bidang tersebut.

oleh: Rani Fatmawati (@ranifatmawati2) – Content Writer at Youth Team SociopreneurID

Halo, sahabat SID!

Mengikuti kegiatan volunteer adalah salah satu hal yang wajib kamu coba. Karena hal tersebut, kalian bisa mendapatkan banyak hal yang belum ditemui di tempat lain. Enggak percaya? Yuk, kita ikuti salah satu pengalaman Youth Team SID dalam mengikuti kegiatan volunteering.

Nama lengkapnya adalah Jessica Wiane Alie atau bisa dipanggil Kak Jess. Kak Jess merupakan salah satu mahasiswi di University of York, Inggris dan juga menjadi salah satu Youth Team di SID di bidang riset. Kak Jess berpengalaman menjadi volunteer di sebuah organisasi bernama Green Impact. Organisasi ini berfokus pada pembudayaan lingkungan, misalnya seperti penanaman pohon, daur ulang sampah, hingga kegiatan fundraising.

“Proses kerelawanan ini berangsung selama enam bulan dan kami mendapatkan projek campaign setiap dua minggunya dan ini berdasarkan kreatifitas masing-masing. Biasanya, PIC kami yang mengatur mengenai topik apa saja yang akan diangkat,” jelas Kak Jess.

Alasan Kak Jes mengikuti kegiatan volunteering ini ialah untuk mencari teman baru serta memahami bahwa pembudidayaan lingkungan yang masih kurang mendapatkan perhatian dan atensi yang cukup dari kalangan anak muda. “Dengan mendobrak adanya stigma tersebut, saya ingin mengajak banyak anak muda lainnya untuk turut ikut serta dalam organisasi ini,” ujar Kak Jess ketika diwawancarai.

Melalui volunteering tersebut, Kak Jes mendapatkan banyak hal baru. “Saya mempelari mengenai komitmen, tanggung jawab, dan juga ini menambah jumlah relasi yang saya kenal, sehingga saya mendapatkan banyak teman dari negara yang berbeda-beda,” jawab Kak Jess ketika ditanya mengenai benefit menjadi relawan. Melalui kegiatan tersebut pula, Kak Jess juga mampu memahami lebih jauh tentang pentingnya penghijauan serta memunculkan kesadaran tentang Global Warming.

“Dengan adanya materi, projek, serta diskusi yang diadakan antar member, saya mendapatkan pengetahuan yang jauh lebih banyak mengenai Global Warming dan memahami apa saja yang harus dilakukan untuk menghentikan itu,” tambah Kak Jess. “Rupanya langkah-langkah tersebut sangat mudah dan dengan sedikit perubahan, banyak dampak positif yang saya rasakan. Misalnya, pengeluaran bulanan saya lebih sedikit dan lingkungan lebih rapi.”

Menurut Kak Jess, makna kegiatan kerelawanan adalah suatu kegiatan di mana kita melakukannya secara sukarela dan tanpa terpaksa, serta hasil kegiatan tersebut memiliki dampak yang baik untuk sesama.

Kak Jess pun berpesan bahwa kegiatan kerelawanan tidak hanya semata untuk menambah relasi dan ilmu, tetapi juga untuk memperbaiki kebiasaan diri sendiri. Karena hal tersebut tidak hanya berdampak baik bagi masyarakat, tetapi juga untuk diri sendiri. Jadi, tidak ada salahnya bagi kita semua untuk mau mencoba dan mengikutsertakan diri dalam kegiatan kerelawanan.

Itulah sedikit cerita pengalaman dari Kak Jes mengenai kegiatan kerelawanan yang pernah ia jalani. Setiap orang pasti memiliki sudut pandang yang berbeda, tetapi tetap sama bermanfaat bagi diri sendiri, lingkungan, maupun masyarakat. Kita pun bisa seperti Kak Jess, bahkan bisa lebih banyak mendapatkan wawasan baru melalui kegiatan kerelawanan. Tidak ada kalimat buang-buang waktu untuk mencari ilmu baru.

oleh: Donia Helena Samosir (@doniahelena) – Content Writer at Youth Team SociopreneurID

Perayaan Nyepi merupakan perayaan rutin yang dilaksanakan oleh Masyarakat Bali – yang didominasi oleh Umat Hindu – setiap pergantian Tahun Saka. Pergantian Tahun Saka atau Tahun Baru Saka jatuh pada Tilem Kesangga, yang berarti hari saat dewa-dewa melakukan penyucian diri di tengah samudra. Karena itu, ini saat yang tepat bagi Umat Hindu untuk turut menjauhi dunia dan mendekatkan diri pada Tuhan. Nyepi yang memiliki makna “menyepi” atau “sepi” dirayakan oleh Umat Hindu sebagai wujud permohonan kepada Tuhan – Ida Sang Hyang Widhi Wasa – untuk melakukan penyucian Buana Alit (manusia) dan Buana Agung (alam dan seluruh isinya).

Tradisi Nyepi dilakukan selama satu hari penuh, dimulai dari pukul 06.00 pagi sampai pukul 06.00 pagi keesokan harinya. Tradisi Nyepi dilakukan dengan mengutamakan 4 hal, diantaranya; 1) Amati Geni, yakni tidak menyalakan api yang berarti mematikan rasa marah, iri hati, dan pikiran-pikiran jahat, 2) Amati Karya, yang berarti tidak bekerja, memiliki makna memanfaatkan waktu untuk merenung dan introspeksi diri, 3) Amati Lelungan, artinya tidak bepergian keluar rumah, bertujuan untuk melestarikan alam dari ulah manusia, 4) Amati Lelanguan, yang maknanya tidak menikmati hiburan, tidak bersenang-senang karena harus memusatkan pikiran kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Rangkaian Tradisi Nyepi tersebut bukan tanpa makna, melainkan mengimplementasikan pedoman Masyarakat Bali “Tri Hita Karana”, yang berarti tiga penyebab kesejahteraan ada pada hubungan baik antara Tuhan, alam, dan umat manusia. Pengimplementasian pedoman tersebut ternyata berdampak nyata terhadap kehidupan sosial manusia dan lingkungan. Konsumsi listrik misalnya, pada hari-hari biasanya Masyarakat Bali bisa mencapai 684 MegaWatt (MW) atau setara dengan 2,5 juta liter Bahan Bakar Minyak (BBM) perhari, pada Perayaan Nyepi konsumsi listrik Masyarakat Bali hanya 40 persen, yakni 290 MW atau setara dengan 1,5 juta liter BBM.

Selain itu, Perayaan Nyepi juga menghentikan seluruh aktivitas manusia memaksa seluruh masyarakat untuk tidak menyalakan lampu, tidak menggunakan alat transportasi dan tidak memasak. Bahkan aktivitas besar seperti produksi listrik juga turut dimatikan, hingga berdampak pada 2 Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) di Bali yang menghentikan operasionalnya. Akibatnya, polusi udara di Bali menurun drastis di hari yang sama. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan bahwa selama Perayaan Nyepi berlangsung, gas polutan, gas karbon monoksida, dan partikel debu yang merupakan penyebab utama efek rumah kaca hampir tidak ada.

Dari fakta-fakta tersebut, membuktikan bagaimana Tradisi Nyepi mampu menghemat energi dan mengurangi polusi udara dengan sangat signifikan. Pembahasan Tradisi Nyepi bahkan dibawa oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Bali pada konferensi global warming UNFCCC tahun 2007 dan menginspirasi dunia hingga membentuk World Silent Day. Hal ini membuktikan bahwa Nyepi bukan sekadar tradisi, melainkan tindakan-tindakan praktikal yang dapat dilakukan oleh setiap orang dan berdampak besar bagi bumi.

Menyontoh Tradisi Nyepi, setiap kita ternyata bisa punya andil besar dalam merawat bumi. Dalam hal menghemat energi, misalnya, bisa dilakukan dengan cara mematikan lampu ruangan yang sedang tidak terpakai, meminimalisir pengisian daya baterai alat-alat elektronik dan mengatur ventilasi udara agar sirkulasi udara menjadi lebih baik. Selain itu, untuk mengurangi polusi udara, bisa dimulai dari membangun kebiasaan berjalan kaki, mengutamakan pola hidup 3R (Reuse, Reduce, Recycle), dan membangun kebiasaan menanam pohon. Mengikuti aksi merawat bumi dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukan oleh Masyarakat Bali juga didukung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan – Siti Nurbaya – yang mengatakan bahwa, “Semua elemen di Bali, telah secara nyata menyuguhkan percontohan tata kelola alam yang harmoni, menjadi percontohan penting di Indonesia”. Dengan begitu, Sociopreneur Indonesia turut berpartisipasi dalam mengimplementasikan Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari melalui Gerakan Earthvenger dan mengajak lebih banyak orang untuk menjadi Earthvenger Heroes, apakah kamu Earthvenger Heroes berikutnya?

oleh: Rani Fatmawati (@ranifatmawati2) – Content Writer at Youth Team SociopreneurID

Seperti Kata Erma Bombeck “Relawan adalah satu-satunya manusia di muka bumi yang mencerminkan welas asih bangsa ini, perhatian yang tidak egois, kesabaran, dan saling mencintai”. Kalimat tersebut bukan sebuah kiasan semata, tetapi realitas yang kerap terwujud dari bentuk bakti seorang relawan.

Menjadi relawan bukan pekerjaan mudah, tetapi perlu ketulusan hati penuh dalam setiap hal yang ia kerjakan walau tidak ada wujud material yang diberikan. Namun, kepuasan hati ketika melihat orang yang terbantu, masyarakat yang lebih baik, dan perbaikan yang nyata merupakan hal yang biasa dialami oleh seorang relawan.

Relawan merupakan seseorang yang mau membantu, mengerjakan sesuatu, dan melakukan kebaikan dengan adanya pemberian material ataupun tidak ada. Alias, mereka mengerjakan kegiatan-kegiatan kebaikan tersebut berlandaskan rasa tulus dan kemanusiaan.

Seperti yang penulis pernah lakukan. Penulis pernah mengikuti kegiatan relawan untuk menjadi fasilitator di sebuah Lapas Anak. Selama tiga bulan berkegiatan, penulis tidak mendapatkan bayaran. Kegiatan pun dilakukan selama seminggu sekali. Namun, jarak antara tempat tinggal dan lokasi kegiatan sangat jauh. Biaya transportasi lumayan mahal apalagi tidak ada kendaraan umum yang melintas.

Meskipun demikian, semuanya seolah terbayarkan oleh keseruan dan senyum anak-anak yang penulis lihat. Tampak tertawa lebar dengan kegiatan-kegiatan seru dan penuh kebermanfaatan bagi mereka.

Bukan hanya menjadi relawan secara offline, menjadi relawan melalui daring pun memiliki kepuasan sendiri ketika karya kita bisa bermanfaat dan tersebar di manapun. Penulis pernah menjadi relawan dalam divisi pendidikan secara daring. Setiap minggu akan selalu ada rapat terkait materi apa yang disampaikan di webinar yang diadakan setiap minggunya. Tanpa ada bayaran apa pun, penulis mendapat kepuasan melalui selesainya tugas yang diberikan dan banyak orang yang lebih tahu terkait materi yang disampaikan.

Sebenarnya, menjadi relawan tidak mesti bergabung dalam sebuah kelompok atau komunitas saja. Setiap harinya kita bisa menjadi seorang relawan, seperti selalu melakukan kebaikan pada orang-orang sekitar, lingkungan, maupun pada diri sendiri. Dengan membantu orang-orang dalam kesulitan, menjaga lingkungan dari kerusakan, dan tetap memerhatikan kesehatan diri sendiri agar bisa terus melakukan kebaikan-kebaikan lainnya. Kita juga bisa mengajak lebih banyak orang untuk melakukan perbuatan-perbuatan kecil bermanfaat, seperti mengingatkan dalam kebaikan dan menjauhi hal-hal yang bisa berdampak buruk pada sekitar.

Jadi, makna relawan menurut penulis bukan hanya tentang menambah pengalaman ataupun relasi, tetapi kepuasan saat kehadiran kita bisa bermanfaat bagi orang lain.

Mungkin teman-teman memiliki segudang pengalaman yang tak kalah menarik dari penulis, memaknai arti relawan pun akan berbeda dari penulis. Namun, terus melakukan perbuatan kebaikan tanpa pamrih merupakan nilai tambah bagi setiap individu yang melakukannya.

Melalui cerita ini, penulis juga ingin membuka kesempatan pada teman-teman yang tertarik menyelami dunia kerelawanan melalui sebuah aktivitas daring yang dapat dilakukan di mana pun teman-teman berada. Program ini diusung oleh SociopreneurID dalam rangka berkontribusi untuk menambah konten edukatif nan praktis, aplikatif, dan dapat diakses oleh public secara gratis di jagat maya. Nama programnya adalah Expert dan Youth Volunteering.

Sesuai namanya, akan ada dua komponen utama dalam program ini: relawan expert yang merupakan profesional dengan pengalaman minimal 8 tahun dalam bidangnya, dan relawan muda dengan rentang usia 18 – 30 tahun yang dapat memilih peran keterlibatannya dalam program ini (info selengkapnya tentang peran relawan dapat mengunjungi: https://www.instagram.com/p/CgUB6jkP03U/?hl=en)

Titik berat dari keberhasilan kegiatan ini tentunya tidak diukur dari seberapa banyak konten yang dihasilkan atau seindah apa hasil video yang nantinya akan diluncurkan, melainkan kerja sama dan ketulusan hati dari para relawan yang berkolaborasi untuk mewujudkan misi dari program ini. Penulis percaya, setiap relawan yang nantinya akan terlibat dalam kegiatan ini akan memiliki pemaknaan yang berbeda tentang kata kerelawanan. Terlepas dari bagaimana kata kerelawanan tersebut dimaknai, penulis berharap eksposur kegiatan ini mampu membuka cakrawala dan sudut pandang baru bagi relawan tentang apa makna aksi yang mereka kontribusikan bagi khalayak ramai nantinya. Selamat bersukarela!

***Pendaftaran Expert dan Youth Volunteering ditutup pada tanggal 31 Juli 2022. Daftarkan dirimu melalui tautan: bit.ly/volunteerEP2022

oleh: Donia Helena Samosir (@doniahelena) dan Rani Fatmawati (@ranifatmawati2) – Content Writer at Youth Team SociopreneurID

Kampung Adat Banceuy merupakan sebuah pemukiman masyarakat adat yang terletak di Desa Sanca, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang. Kampung Adat Banceuy merupakan kampung adat yang “dibentuk” untuk dibina dalam mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal. Sebutan “Banceuy” sendiri berangkat dari kata “Ngebanceuy” yang berarti musyawarah. Hal ini dimaksudkan agar masyarakatnya saling mendengarkan dan gotong-royong.

Sejak dibentuknya Kampung Adat Banceuy, masyarakat dibina untuk mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal, seperti melestarikan ritual-ritual adat yang bersifat turun-temurun, salah satunya Ruwatan Bumi. Ruwatan Bumi atau Ngaruwat Bumi merupakan tradisi rutin yang dilaksanakan oleh Masyarakat Kampung Banceuy dalam melestarikan lingkungan. Ritual ini dilakukan sebagai rasa syukur kepada sang pencipta dan ditujukan agar panen yang akan datang diberikan hasil panen yang meningkat dan juga kesuburan lahan.

Melalui budaya Ngaruwat Bumi, Masyarakat Kampung Banceuy melakukan ritual adat setelah panen seperti mapag cai (mengolah sawah sebelum menyemai benih), mitembeyan (upacara sebelum menebar benij), netepken (menetapkan niat), dan nganyaran (mencicipi hasil panen). Semua ritual tersebut dilakukan untuk menghargai padi. Bagi Masyarakat Kampung Banceuy, padi merupakan benda suci dan untuk mendapatkannya harus melalui ritual-ritual khusus, hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Sri dan dewa-dewi suci lainnya di khayangan.

Padi yang sangat dihargai oleh Masyarakat Kampung Banceuy merupakan upaya masyarakat setempat melestarikan lingkungan. Masyarakat Kampung Banceuy percaya bahwa setiap hal yang dihaasilkan alam merupakan pemberian dari leluhur dan makhluk ghaib. Mitos-mitos serupa tersebut terus dijaga untuk melestarikan lingkungan – agar tidak ada yang merusak hutan, gunung, dan sawah. Makna dari Tradisi Ngaruwat Bumi yang dilakukan oleh Masyarakat Kampung Banceuy tentu dapat kita maknai, tiru, dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Tradisi Ngaruwat Bumi yang sangat menjaga kelestarian alam dengan menghargai setiap pemberian alam, maknanya tentu dapat kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Padi yang dianggap sangat suci oleh Masyarakat Kampung Banceuy dan diperlakukan sangat baik, seharusnya dilakukan oleh kita semua di masa sekarang. Menghargai setiap makanan – padi dan makanan lainnya – yang memberikan kita kehidupan dengan mengurangi food waste.

Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), food waste berarti sebuah tindakan membuang hasil produksi pangan baik karena penurunan kualitas pangan, maupun karena penurunan kuantitas ritel, penyedia makanan, dan konsumen. FAO menyebutkan bahwa sepertiga dari seluruh produksi pangan di dunia harus terbuang setiap tahunnya – dengan rumah tangga sebagai penyumbang terbesar dari food waste dunia.

Padahal dengan fakta tersebut, di saat yang sama ada 768 juta orang kelaparan di seluruh dunia. Selain melukai kehidupan sosial, food waste juga melukai lingkungan. Food waste menyebabkan pencemaran tanah, air, dan udara di saat yang bersamaan. Emisi gas yang dibuang oleh sampah makanan juga menyebabkan efek rumah kaca dan pemanasan global. Food waste merupakan fenomena yang sangat merugikan kehidupan manusia.

Food waste tentu dapat dikurangi dengan cara-cara tertentu, diantaranya: 1) Menyadari bahwa makanan adalah berkat dan bersikap menghargai makanan, seperti yang dilakukan oleh Masyarakat Kampung Banceuy, 2) Memilih makanan dengan bijak dan mindful, sehingga tidak ada makanan yang terbuang, 3) Membagikan kelebihan makanan kepada orang lain – terutama orang-orang yang membutuhkan, 4) Mendaur ulang sisa makanan menjadi sesuatu yang berguna, seperti pakan ternak dan kompos agar tidak terbuang sia-sia.

Menjaga hubungan baik dengan alam berarti menghargai setiap hal yang diberikan oleh alam kepada kita dan menjaga kelestarian alam sebagai timbal baliknya. Dengan tidak membuang makanan berarti kita telah turut mensyukuri berkat Tuhan dan menjaga lingkungan. Sociopreneur Indonesia turut mendukung hal ini melalui Gerakan Earthvenger. Dengan menyebarkan pesan baik bahwa food waste adalah wujud ketidakadilan bagi lingkungan, Sociopreneur Indonesia mengajak kita semua untuk mengampanyekan pesan ini ke lebih banyak orang, dan membawa lebih banyak orang menjadi Earthvenger Hero!

oleh: Donia Helena Samosir (@doniahelena) – Content Writer at Youth Team SociopreneurID

“Jadi sukarelawan itu memang gak bisa dipaksa, harus dari panggilan hati. Kalau dijalaninnya dengan hati, pasti bisa dapetin pelajaran hidup dalam prosesnya.” – Rizki.

Rizki Kurniawan – yang akrab dipanggil Rizki merupakan seorang video editor yang sudah berkecimpung di dunia seni sejak masih bersekolah. Selain menyalurkan kecintaannya pada seni melalui pekerjaan utamanya sebagai editor, Rizki juga menyalurkannya pada banyak hal, salah satunya pada kagiatan-kegiatan kerelawanan yang diikutinya. Ingin menyalurkan bakat dan kecintaannya menjadi editor merupakan motivasi awal yang mendorong Rizki menjadi sukarelawan. Kepada Sociopreneur Indonesia, Rizki menceritakan bahwa Rizki pernah beberapa kali menjadi sukarelawan, seperti menjadi sukarelawan di Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga, Kawan Netra, Ruang Pasien, Urunan Kebaikan, Homesantren, dan beberapa program Sociopreneur Indonesia.

Pengalaman Rizki menjadi relawan di Sociopreneur Indonesia bermula sejak 2020. Saat itu Rizki memiliki panggilan hati untuk membagikan banyak hal melalui video-video yang dieditnya pada program-program yang berlangsung selama menjadi relawan. Melalui hal tersebut, Rizki ingin membagikan cerita-cerita menjadi sukarelawan yang selama ini didapatkannya kepada lebih banyak orang. Rizki menyadari bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama seperti dirinya saat menjadi seorang sukarelawan.

Rizki menceritakan bahwa menjadi sukarelawan berarti memetik banyak pelajaran hidup. Saat menjadi sukarelawan di Empathy Project Kota Solok 2022 bersama Sociopreneur Indonesia, banyak sekali pelajaran berharga yang didapatkannya. Pelajaran hidup seperti memecahkan masalah dari hal-hal kecil, berani berpikir out of the box, serta belajar untuk memanfaatkan hal-hal sekitar untuk sesuatu yang lebih berguna secara efisien. Rizki mencontohkan, tentang bagaimana memindahkan posisi-posisi barang dalam suatu ruangan dapat memecahkan banyak masalah, salah satunya tentang efisiensi pekerjaan.

Pelajaran-pelajaran hidup seperti itu merupakan pelajaran hidup yang mungkin tidak akan bisa didapatkan jika tidak mengikuti kegiatan kerelawanan. Rizki menceritakan bahwa selama dua tahu terakhir terlibat dalam program-program kerelawanan bersama Sociopreneur Indonesia, Rizki mendapat banyak sekali pengalaman hidup baik dari segi sosial, lingkungan, dan relasi yang tidak mungkin didapatkannya jika tidak mengikuti kegiatan kerelawanan.

Melalui pelajaran-pelajaran hidup yang dapat diambil oleh Rizki sepanjang menjadi sukarelawan, Rizki sangat merekomendasikan supaya anak-anak muda punya kesempatan dan pengalaman menjadi sukarelawan. Bagi Rizki, menjadi sukarelawan memang tidak bisa dipaksakan, melainkan harus dari hati. Ketika menjalani kerelawanan dari hati maka, siapapun yang menjalaninya pasti bisa memetik pelajaran hidup dalam prosesnya.

Inilah Sisi Gelap Praktik Dunia Online, Bagaimana Menanganinya?

Kehadiran teknologi berbasis internet seharusnya dapat mempermudah kehidupan manusia, namun apabila para pengguna tidak memiliki paham dan ketelitian dalam menggunakannya maka internet dapat memberikan dampak negatif yang merugikan. Oleh karena itu tidak hanya perkembangan teknologi berbasis internet yang semakin meningkat, tetapi literasi digital para penggunanya juga perlu ditingkatkan. Untuk itu video ini hadir untuk memberikan gambaran bagaimana cara untuk lebih sadar akan praktik-praktik dunia online atau internet yang memiliki potensi untuk merugikan para pengguna. #darkpatterns #virtualempathyproject2021

Video ini direkomendasikan untuk: Remaja – Orang Tua – Umum

  • Expert : A.Y. Agung Nugroho
  • Project Leader : Diandra Agatha (@diandraagatha)
  • Video Editor :  Nuraini (@aini_ern)
  • Storyline : Alexander Ferrel (@ferrelvalentino)
  • SMC : Rania Nauralia (@raniaasalehh)
  1. https://www.darkpatterns.org/

Ingin terlibat dalam pembuatan konten edukasi ini?
Hubungi kami melalui Email atau media sosial kami

Disclaimer: Video ini merupakan kontribusi Expert dan Youth Volunteer dalam rangkaian program Empathy Project Virtual 2021. Seluruh konten edukasi dapat diakses dan digunakan oleh publik selama bertujuan sebagai media pembelajaran.